Pages

Tampilkan postingan dengan label Dzikir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dzikir. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Juni 2014

Ketika Sulit Rezeki

Ketika Sulit Rezeki
Ada seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW dan berkata,,, "dunia kekayaan telah menjauh dariku Ya Rasulullah, sehingga amat sedikit rizki yang ku peroleh dari kedua tanganku !!!"

Kemudian Rasulullah bertanya,,, "apakah engkau pernah mengucapkan sholawat??? dan para malaikat bertasbih semua makhluk agar mereka diberi rizki,,,

Sahabat bertanya lagi,"Apa yang engkau maksud Ya Rasulullah ???

Beliau menjawab"
[SUBHANALLAHI WABIHAMDIHI SUBHANALLAHIL ‘ADZIM ASTAGHFIRULLAH]
Sebanyak 100x, Antara fajar mulai menyingsing hingga engkau melakukan sholat subuh, maka dunia akan akan datang dan merangkak tunduk padamu.Dari kalimat itulah Allah menciptakan malaikat yang senantiasa bertasbih hingga hari kiamat. (HR.BUKHARI.MUSLIM)

Ketika Sulit Rezeki


dikutip dari : http://yoanmiza.blogspot.com/



Ketika Sulit Rezeki

Rabu, 04 Juni 2014

Keutamaan Majelis Ta'lim

Keutamaan Majelis Ta'lim - Sobat mutiara hati,, alhamdulillah di lingkungan kerja saya sekarang sudah rutin diadakan ta'lim. Suasana mess dan tempat kerja jadi serasa tenang, karena penuh dengan agama.
Sungguh aku bersyukur, karena Allah telah memberi nikmat seperti ini.
Banyak sekali lho, keutamaan majelis ta'lim. Membaca ta'lim begitu banyak fadhilahnya. Tentu sobat ingin tau kan, apa saja keutamaannya? Simak berikut ini.

Keutamaan Majelis Ta'lim

Menghidupkan ta'lim rumah secara istiqomah merupakan perkara yang harus dilakukan oleh seluruh umat islam tanpa kecuali baik bagi yang  sudah mengenal usaha agama maupun belum, karena barang siapa yang menghidupkan ta'lim rumah maka berarti orang tersebut siap untuk didatangi agama, karena ta'lim rumah adalah pintu masuknya agama ke dalam rumah, kalau pintunya tidak pernah dibuka bagaimana keluarga kita mau paham agama.

Manfaat dari taklim di rumah:
  1. Allah SWT akan memberikan rahmat, sakinah dan keberkahan pada ahli rumah / keluarga.
  2. Akan wujud suasana agama di rumah.
  3. Ahli keluarga akan tahu nilai-nilai akhirat dan amalan agama.
  4. Mengeluarkan kebesaran MAAL (harta) dan memasukkan kebesaran AMAL shalih dalam hati.
  5. Akan dapat keyakinan bahwa amal Rasul dapat menyelesaikan masalah kita di dunia dan di akhirat.
  6. Rumah kita akan dipenuhi nur yang cahayanya sampai ke langit.
  7. Malaikat akan masuk dan syaitan-syaitan akan keluar dari rumah.
  8. Akan menghancurkan 40 majelis maksiat.
  9. Akan dijauhkan dari fitnah dajjal.
Kerugian apabila tidak menghidupkan ta'lim di rumah
  1. Beramal ikut nafsu
  2. Ahli keluarga tidak mengetahui nilai-nilai akhirat karena di dalam rumah tidak ada mudzakarah tentang iman dan amal shalih.
  3. Di rumah banyak syaitan, karena suara musik lebih sering terdengar daripada bacaan-bacaan ayat suci Al-qur’an, gambar-gambar dan patung banyak disimpan di dalam rumah
  4. Maksiat merajalela, antar anggota keluarga menjadi kurang rukun, sering terjadi pertengkaran
Itu semua akan terjadi karena rumah yang tidak hidup amalan agama dan ta'lim di rumah maka ahli keluarga tidak akan tahu pentingnya amalan agama.
Karena itulah, penting bagi kita untuk melaksanakan ta'lim rumah. Berikut ini, cara membuat ta'lim rumah :
  1. Di rumah hendaklah kita memiliki kitab atau buku ta’lim (seperti: fadhilah amal), jika tidak ada bisa menggunakan terjemahan Al Qur’an atau buku-buku agama yang di dalamnya terkandung firman Allah dan sabda Nabi (hadits). Menurut ‘alim ulama sebaik-baiknya harta yang disimpan di rumah adalah Al Qur’an dan buku ta’lim (fadhilah amal).
  2. Waktu ta’lim ditetapkan, pilih waktu dimana seluruh anggota keluarga berkumpul.
  3. Tempat ta’lim ditentukan istiqomah satu tempat saja dan dikondisikan sebagaimana suasana masjid (bebas dari perabot mewah/patung/gambar makhluk). Baca ta’lim dengan istiqomah setiap hari satu kali.
  4. Baca ta’lim secara bergiliran setiap hari mulai bapak/suami, ibu/istri, anak-anak,dst.
  5. Baca buku ta’lim secara berurutan, setelah dibaca ditandai dan dilanjutkan kembali besoknya.
  6. Semua fadhilah dibaca, diutamakan baca fadhilah shalat dan kisah sahabat.
  7. Sekali-kali diterangkan adab-adab ta’lim sebelum ta’lim dimulai.
  8. Selain ta’lim dengan membaca kitab, ta'lim rumah diisi dengan mudzakarah sifat-sifat sahabat, halaqah tajwid Qur’an, masa’il, muzakarah wanita, dst.
  9. Waktu ta'lim sekurang-kurangnya 30 menit.
  10. Selesai ta’lim ditutup dengan doa kifarah majelis: “Subnallakallahumma wabihamdika asyhaduan lailaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik”
Itu dia keutamaan ta'lim yang admin kutip dari marianacity.wordpress.com. Insya Allah ya,, apabila kita mengamalkan ta'lim, kita akan mendapatkan ketenangan dan barokah dari Allah SWT.
Mudah-mudahan, Allah senantiasa membimbing kita untuk selalu ada di jalan-Nya. Aamiin

Semoga artikel ini bermanfaat ya sobat mutiara hati. ^^


Keutamaan Majelis Ta'lim

Sabtu, 31 Mei 2014

Surat Cinta Tentang Sholat

Sobat mutiara hati, admin kemarin abis keliling di google plus.. Trus nemu Surat Cinta Tentang Sholat, tulisannya keren. Dan memberikan motivasi. ^^ Mudah-mudahan bermanfaat untuk kalian juga ya... 


Surat Cinta Tentang Sholat

Bila engkau anggap Sholat itu hanya penggugur kewajiban, maka kau akan terburu-buru mengerjakannya...

Bila kau anggap Sholat hanya sebuah kewajiban, maka kau tidak akan menikmati hadirnya Allah saat kau mengerjakannya....

:: Anggaplah Sholat itu pertemuan yang kau nanti dengan Allah...

:: Anggaplah Sholat itu sebagai cara terbaik kau bercerita dengan Allah...

:: Anggaplah Sholat itu sebagai kondisi terbaik untuk kau berkeluh kesah dengan Allah...

:: Anggaplah sholat itu sebagai seriusnya kamu dalam bermimpi...

:: Bayangkan ketika Adzan tangan Allah melambai ke depanmu untuk mengajak kau lebih dekat denganNya...

:: Bayangkan ketika kau Takbir, Allah melihatmu, Allah senyum untukmu dan Allah bangga terhadapmu...

:: Bayangkanlah ketika Ruku, Allah menopang badanmu hingga kau tak terjatuh, hingga kau rasakan damai dalam SentuhanNya...

:: Bayangkann ketika Sujud, Allah mengelus kepalamu. Lalu Dia berbisik lembut di kedua telingamu, Aku Mencintaimu HambaKu"...

:: Bayangkan ketika kau duduk diantara dua sujud, Allah berdiri gagah di depanmu, lalu mengatakan, Aku tak akan diam bila ada yang mengusikmu

:: Bayangkan ketika kau Salam, Allah menjawabnya, aku akan selau menunggu dan merindukanmu kekasihku... lalu DIA membersihkan hati dan pikiranmu setelah itu.

:: Dan bayangkan itu adalah Sholat Terakhirmu...# wallahualam..

Bagi admin, tulisannya bagus :)
Mudah-mudahan, tulisan ini turut menyemangati kita untuk melaksanakan sholat fardhu dan sholat-sholat sunat lainnya. Aamiin

Kamis, 29 Mei 2014

Hidayah Datangnya dari Allah

Sobat mutiara hati, memang benar ya, Hidayah Datangnya dari Allah, Allah berfirman yang artinya “Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah: 213), dan Allah berfirman yang artinya “Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemberi petunjuk.” (QS. Az-zumar:23).

Bahkan, pada Nabi Muhammad SAW pun, Allah berkata, wahai Muhammad, kamu tak dapat memberi hidayah kepada orang-orang yang kamu cintai, melainkan kepada orang yang Ku kehendaki. Contohnya saja,, paman Nabi SAW yakni Abu Tholib. Rosul begitu mencintai pamannya, segala cara dan upaya yang dilakukan beliau untuk mengajak pamannya kepada kebenaran, tidak sampai membuat pamannya menggenggam Islam sampai ajal menjemputnya. Padahal, paman Nabi selalu melindungi Nabi dan meyakini bahwa ajaran yang dibawa Nabi SAW merupakan ajaran yang benar.
Seorang rosul yang kita tahu kedudukannya di sisi Allah saja tidak mampu untuk memberi hidayah kepada pamannya, apalagi kita yang keimanannya sangat jauh dibandingkan beliau.

Saya pun sama, banyak orang yang saya sayangi, yang saya harap bisa kembali ke jalan lurus untuk menggapai keridhoan Allah. Saya mengingatkannya untuk melaksanakan sholat, namun dia berkata "nanti". Astagfirulloh.. Seperti yang diterangkan dalam hadist, melalaikan sholat saja sudah mendapatkan azab yang pedih, apalagi meninggalkannya.
Ya Allah, sungguh Engkaulah yang Maha Memberi Petunjuk.

Hidayah Datangnya dari Allah

Saya pun di sini bukanlah wanita yang sepenuhnya taat kepada Allah. Sebagai manusia, banyak kekurangan dan dosa saya. Namun, insya Allah saya selalu berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, untuk menjadi wanita sholehah yang disayang Allah. Sudah sepatasnya saya mengingatkan orang-orang di sekitar saya agar berbuat kebaikan.
Namun apa daya,, jikalau hidayah itu belum Allah berikan pada orang di sekitar saya, tidaklah lagi yang bisa saya perbuat selain mendo'akannya agar mendapat hidayah dari Allah SWT.

Berkenaan dengan kejadian yang saya alami hari ini, saya jadi penasaran tentang bagaimana caranya mendapatkan hidayah Allah SWT. Makanya,, admin nyari nih di google. Dan nemu artikel-artikel ini.

Hidayah itu datangnya dari Allah Subhanahu wa ta'ala
Hidayah itu suatu puncak kesadaran manusia akan kebenaran sejati
Hidayah itu datang melalui perantara makhluk hidup atau mati
Jika seseorang mendapatkan hidayah dari Allah SWT
Maka ia telah menemukan harta yang tiada kira harganya
Karena hidayah adalah suatu anugerah terindah dari Tuhan
Saya tidak dapat memberi hidayah kepada siapa pun (makhluk yang berakal)
Kecuali hidayah itu datang hanya dari Allah yang Maha kuasa
Meskipun seseorang dinasehati semilyar nabi dan wali dengan nasehat atau dakwah yang indah dan super dahsyat
Maka tidak akan datang hidayah kepadanya, kecuali jika Allah menghendakinya
"Yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbi 'aladdinika"
"Duhai Tuhan yang membolak-balikkan hati, Tetapkan hati (iman)ku atas agama-Mu (ISLAM)"
(http://hidayatullah1001.blogspot.com/)

Setelah mengetahui hal ini, lantas bagaimana upaya kita untuk mendapatkan hidayah? Bagaimana caranya membuat orang lain mendapatkan hidayah? Di antara sebab-sebab seseorang mendapatkan hidayah adalah :

1. Bertauhid

Seseorang yang menginginkan hidayah Allah, maka ia harus terhindar dari kesyirikan, karena Allah tidaklah memberi hidayah kepada orang yang berbuat syirik. Allah berfirman yang artinya “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kesyirikan, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-an’am:82).

2. Taubat kepada Allah

Allah tidak akan memberi hidayah kepada orang yang tidak bertaubat dari kemaksiatan, bagaimana mungkin Allah memberi hidayah kepada seseorang sedangkan ia tidak bertaubat? Allah berfirman yang artinya “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya”.

3. Belajar Agama

Tanpa ilmu (agama), seseorang tidak mungkin akan mendapatkan hidayah Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya “Jika Allah menginginkan kebaikan (petunjuk) kepada seorang hamba, maka Allah akan memahamkannya agama” (HR Bukhori)

4. Mengerjakan apa yang diperintahkan dan menjauhi hal yang dilarang.

Kemaksiatan adalah sebab seseorang dijauhkan dari hidayah. Allah berfirman yang artinya “Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka), dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.” (An-nisa: 66-68).

5. Membaca Al-qur’an, memahaminya mentadaburinya dan mengamalkannya.

Allah berfirman yang artinya “Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus” (QS. Al-Isra:9)

6. Berpegang teguh kepada agama Allah

Allah berfirman yang artinya “Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali-Imron:101).

7. Mengerjakan sholat.

Di antara penyebab yang paling besar seseorang mendapatkan hidayah Allah adalah orang yang senantiasa menjaga sholatnya, Allah berfirman dalam surat al-baqoroh yang artinya “Aliif laam miim, Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya dan merupakan petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.”

Siapa mereka itu, dilanjutkan pada ayat setelahnya “yaitu mereka yang beriman kepada hal yang ghoib, mendirikan sholat dan menafkahkah sebagian rizki yang diberikan kepadanya” (QS. Al-baqoroh:3).

8. Berkumpul dengan orang-orang sholeh

Allah berfirman yang artinya “Katakanlah: “Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan kembali ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): “Marilah ikuti kami.” Katakanlah: ”Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am:72).

Ibnu katsir menafsiri ayat ini, “Ayat ini adalah permisalan yang Allah berikan kepada teman yang sholeh yang menyeru kepada hidayah Allah dan teman yang jelek yang menyeru kepada kesesatan, barangsiapa yang mengikuti hidayah, maka ia bersama teman-teman yang sholeh, dan barang siapa yang mengikuti kesesatan, maka ia bersama teman-teman yang jelek. “

Dengan mengetahui hal tersebut, marilah kita berupaya untuk mengerjakannya dan mengajak orang lain untuk melakukan sebab-sebab ini, semoga dengan jerih payah dan usaha kita dalam menjalankannya dan mendakwahkannya menjadi sebab kita mendapatkan hidayah Allah. Syaikh Abdullah Al-bukhori mengatakan dalam khutbah jum’atnya “Semakin seorang meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah, niscaya bertambah hidayah padanya. Seorang hamba akan senantiasa ditambah hidayahnya selama dia senantiasa menambah ketaqwaannya. Semakin dia bertaqwa, maka semakin bertambahlah hidayahnya, sebaliknya semakin ia mendapat hidayah / petunjuk, dia semakin menambah ketaqwaannya. Sehingga dia senantiasa ditambah hidayahnya selama ia menambah ketaqwaannya.”(sumber: http://remajaislam.com/)

Mudah-mudahan Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kita dan orang-orang yang ada di sekeliling kita ya sobat mutiara hati. Aamiin

sponsored :

pengobatan kolesterol


Hidayah Datangnya dari Allah

Jumat, 25 April 2014

Orang Beriman Selalu Ingat Pada Kematian

Orang Beriman Selalu Ingat Pada Kematian - Keyakinan orang beriman akan adanya kehidupan sesudah kematian menyebabkan dirinya selalu berada dalam mode standby menghadapi kematian. Ia memandang kematian sebagai suatu keniscayaan. Tidak seperti orang kafir yang selalu saja berusaha untuk menghindari kematian. Orang beriman sangat dipengaruhi oleh pesan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam yang bersabda: 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَأَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ

“Banyak-banyaklah mengingat penghapus kenikmatan, yakni kematian.” (HR Tirmidzi 2229)
Sedangkan sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu pernah berkata: “Bila manusia meninggal dunia, maka pada saat itulah ia bangun dari tidurnya.” Subhanallah…! Berarti beliau ingin mengatakan bahwa manusia yang menemui ajalnya adalah manusia yang justru baru mulai menjalani kehidupan sebenarnya, sedangkan kita yang masih hidup di dunia ini justru masih ”belum bangun”. Sungguh, ucapan ini sangat sejalan dengan firman Allah ta’aala:

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآَخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” (QS Al-Ankabut 64)
Pantas bilamana Ali radhiyallahu ’anhu pula yang berkata: “Dunia pergi menjauh dan akhirat datang mendekat. Karena itu, jadilah kalian anak-anak akhirat, jangan menjadi budak-budak dunia. Sekarang waktunya beramal, dan tidak ada penghisaban. Sedangkan besok waktunya penghisaban, tidak ada amal.”
Bagaimanakah kematian orang beriman? Dalam sebuah hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:

عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَمُوتُ بِعَرَقِ الْجَبِينِ

“Orang beriman meninggal dengan kening penuh keringat.” (HR Ahmad 21886)

Penulis produktif Aidh Al-Qarni menulis: ”Saya menyeru setiap orang tua agar mengingat kematian. Sadar bahwa dirinya sudah mendekat maut serta tidak mungkin bisa lari darinya. Jadi, siapkan diri untuk menemui Allah. Karena itu, sudah sepantasnya ia menjauhi akhir kehidupan yang jelek dan memperbanyak amal kebaikan sehingga dapat berjumpa dengan Allah ta’aala dalam keadaan diridhai.”
Ambillah keteladanan dari kematian Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu. Ia ditikam oleh Abu Lu’luah saat sedang mengimami sholat subuh. Umarpun jatuh tersungkur bersimbah darah. Dalam keadaan seperti itu ia tidak ingat isteri, anak, harta, keluarga, sanak saudara atau kekuasaannya. Yang ia ingat hanyalah ”Laa ilaha illallah Muhammad rasulullah, hasbiyallah wa ni’mal wakil.” Setelah itu ia bertanya kepada sahabatnya: ”Siapakah yang telah menikamku?”
”Kau ditikam oleh Abu Lu’luah Al-Majusi.”
Umar radhiyallahu ’anhu lalu berkata: ”Segala puji bagi Allah ta’aala yang membuatku terbunuh di tangan orang yang tidak pernah bersujud kepada-Nya walau hanya sekali.” Umar-pun mati syahid.
Ketika Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menghadapi sakaratul maut beliau mengambil secarik kain dan menaruhnya di wajah beliau karena parahnya kondisi yang beliau hadapi. Lalu beliau berdoa:

لا إله الا الله… لا إله الا الله… لا إله الا الله إن للموت لسكرات…
اللهم أعني على سكرات الموت… اللهم خفف علي سكرات الموت

“Laa ilaha illallah… Laa ilaha illallah… Laa ilaha illalla. Sungguh kematian itu sangat pedih. Ya Allah, bantulah aku menghadapi sakratul maut. Ya Allah, ringankanlah sakratul maut itu buatku.” (HR Bukhary-Muslim)
Aisyah radhiyallahu ’anha menuturkan: “Demi Allah, beliau mencelupkan kain itu ke air lalu meletakkannya di atas wajah beliau seraya berdoa:

اللّهُمَّ أَعِنيِّ عَلىَ سَكَرَاتِ الْمَوتِ
”Ya Allah, bantulah aku menghadapi sakratul maut.”

Saudaraku, marilah kita mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian yang bisa datang kapan saja. Kematian yang sungguh mengandung kepedihan bagi setiap manusia yang mengalaminya. Hingga kekasih Allah ta’aala saja, yakni Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam berdoa agar Allah ta’aala ringankan bagi dirinya sakaratul maut. Tidak ada seorangpun yang tidak bakal merasakan kepedihan sakratul maut.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS Ali Imran 185)

Marilah saudaraku, kita mempersiapkan diri menghadapi kematian dengan segera bertaubat memohon ampunan dan rahmat Allah ta’aala sebelum terlambat. Sebab begitulah kematian orang kafir. Suatu bentuk kematian yang diwarnai penyesalan yang sungguh terlambat.

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا
فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh (dinding) sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS Al-Mu’minun 99-100)
sumber : http://www3.eramuslim.com/

http://obatradisionalkolesteroltinggi.wordpress.com/


Kita hidup di dunia ini tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah SWT.. Untuk itu, selama kita masih ada di dunia, hendaknya kita selalu melakukan amal perbuatan yang baik, untuk bekal kita di akhirat kelak. Saya bukanlah orang sempurna,, tapi dengan blog ini, saya hanya ingin berbagi, saling mengingatkan sesama saudara muslim.
Saya teringat kemarin kultum saat sedang yasinan di masjid,, Pak Jamal, Ustad di daerah tempatku bekerja berkata,, apa dari tasik ke jakarta cukup dengan uang sepuluh ribu? Semua jamaah menjawab, tidak. Ya,, jika kita akan pergi ke luar kota,, tentu kita membutuhkan perbekalan yang cukup, bahkan lebih dan lebih, agar di tempat tujuan kita tidak kekurangan suatu apapun.

Itu contohnya ke Jakarta,, apalagi untuk bekal di akhirat. Bukankah di akhirat kelak, itu adalah hari pembalasan? Takkan ada sholat di akhirat kelak, takkan ada amalan yang bisa kita lakukan untuk menambah timbangan amal baik kita,, yang ada di akhirat adalah kita menikmati balasan amal perbuatan baik kita dengan nikmat Allah yang Maha indah. Atau mungkin menerima azab atas perbuatan buruk kita selama di dunia.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing hati kita, untuk selalu mengingatnya agar kelak kita mendapat keridhoan dan nikmat Allah yang luar biasa di akhirat. Aamiin


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More